Kian hari, kian detik, aku merasakan hidup yang semakin menjenuhkan. Lelah sudah jiwa ini memikirkan kenapa hal ini harus menerpa diriku. Terkadang titik prustasi mulai menyapa kesendirianku. Bahkan tak jarang kenyakinan semakin sirna terbang bersama hasutan ketakutan membisik sanubari. Mungkinkah aku telah dirisik oleh makhluk yang bernama prustasi? Ntahlah, sungguh aku tak sudi menerima pinangan makhluk keji itu.
Perlahan ku pejamkan mata, agar bisa ku temukan titik tarang dalam pandang yang terpejam. Kukerahkan semua pandangan disatu titik untuk mencoba memasuki alam pikiran itu dengan langkah yang terbata-bata. Ting… cahaya mamancar dari ubun-ubun kepala yang memberikan sinyal terbukanya jalan pikiran. Lalu cahaya itu mengalir bersama alirah darahku untuk menemuai sang raja yang memimpin seluruh ragaku. “Jiwa” itu nama sang raja. cahayapun menyampaikan pesan kepada sang raja. Cahaya bertutur “wahai rajaku, tahukah engkau yang membuat seluruh raga tersiksa? Karena engkau tidak pernah membelai cinta sejatimu wahai raku”. Daarr… tiba-tiba aku tersentak dan langsung mengerti apa yang telah dikabarkan cahaya tadi.
Tanpa basi-basi, aku melirik jam yang berdetak didinding sudut kanan. Pukul telah menunjukkan 13.15 wib. Ku palingkan pandangan seratus delapan puluh derajat kekiri. Lalu berdiri menghampiri lemari kaca dan langsung membukannya. Aku meraih tumpukan yang ada didalam lemari itu dan memasukannya kedalam tas sandang. Tanpa basi-basi aku meraih kunci motor dan langsung tancap gas menuju kesuatu tempat tujuan. Kesunyian dan religius itulah menjadi tempat pilihan utama untuk saling bercumbu ria bersama cinta sejatiku. Tanpa menoleh kiri dan kanan, gas motor ku peras sejadi-jadinya agar bisa cepat sampai ketujuan.
Hampir tiba ketujuan, aku bisa mencium bau wangian kedamaian tempat kami menjalin cinta. Ia terbang bersama angin yang menerpa pepohonan cemara dikiri kananku. Bau wangi itu mampu menggegarkan gairah jiwa ini. Nafsu semakin membuncah dibakar oleh api asmara untuk saling bercumbu bersama kekasih tercinta. Cintaku… tunggulah aku… aku telah berhasrat aku mencumbuimu dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Akan kupuaskan nafsu jiwa ini. Percayalah padaku, demi langit dan bumi aku bersumpah cintaku hanya untukmu.
Akhirnya aku tiba ketempat tujuan yang selalu menjadi pilihan berdua. Tempat ibadah, itulah lokasi yang ideal agar bisa bercumbu mesra. Namun sebelum kami memulai pergulatan cinta ini, terlebih dahulu aku melaksanakan shalat dua rakaat. Setelah selesai shalat tidak lupa kupanjatkan do’a sang khaliq agar percintaan kami direstuai dan membuahkan benih-benih cinta.
Aku beranjak dari tempat sholat, mencari lokasi yang paling pas untuk menjalinkan hubungan cinta, pastilah lokasi tersebut jauh dari pandangan manusia yang lewat apalagi waktunya disiang bolong. Aku kitari semua lokasi dan akhirnya menemukan tempat yang nyaman dan aman. Lalu kami duduk bersandar didinding saling bertatapan. Mulailah aku membuka tas yang kubawa tadi, lalu mengeluarkan tumpukan yang ada didalamnya.
Kupandang wajah kekasihku dengan penuh perasahaan dan rindu. Tampak sekali raut wajah terasa hampa karena tiada kehadiranku selama ini. Aku tahu, dia sangat mencintaiku dengan sepenuh jiwa raganya. Dulu kami pernah berikrar untuk tidak pernah saling melupakan satu sama lainnya. Tapi aku yakin seyakinnya, dia tak pernah melupakan aku selama-lamanya kecuali aku melupakannya walau seharipun. Cintanya padaku sampai aku mati nanti, namu aku juga berharap cintaku cinta yang tiada tara kepadanya.
Mulailah aku menatap wajahnya dalam-dalam. Kuringankan tanganku, kuraba pelan setian sudut wajahnya. Ia mengikuti dengan seksama setiap irama jemari tanganku. Kukatakan padanya “Izinkanlah tuk membelaimu wahai belahan jiwaku”! namum ia diam seribu bahasa. Senyumanku merekah karena aku sungguh mengerti diamnya itu, petanda dia juga menginginkan sentuhan lembut mesraku. Ketika aku mulai membuka, aku bisa mencium bau yang begitu wangi sekali dari setiap helai lembaran tubuhnya, bau membuat aku terposona dalam beberapa tahun terakhir ini. Dia sangat menikmati ketika aku menyuntuh setiap helai tubuhnya.
Dengan penuh teliti aku membaca memahami guratan-guratan hitam disetiap helai tubuhnya. Guratan itu ada yang berupa nasehat, argumen yang beralasan lagi menegaskan makna hidup ini sesungguhnya. Kuraba lagi kujamah terus helai demi helai tubuhnya. Akhir aku semakin memahami bahwa hidupku akan semakin hampa jika ia berubah fikiran untuk berpaling dariku selama. Dialah pemuas nafsu jiwaku selama beberapa tahun belakangan ini. Dia cinta yang sangat mulia yang pernah aku temukan selama aku hidup di dunia selain cinta Allah swt kepada makhluknya, cinta Rasulullah saw kepada umat dan cinta kedua orangtua kepada anaknya. Ya Rob, jangan pernah pisahkan kami berdua tuk selama, amin.
Berjam-jam aku bersamanya, pelan-pelan jiwaku berangsur pulih dari berkeluh-kesah. Dia menasehati jiwaku dan menambal disetiap lobang-lobang yang ia temukan. Aku menerima sepenuh hati nuraniku dari setiap nasehatnya, karena aku tau dia takkan pernah membohongi dan membodohiku. Namun hari ini aku takkan menjamah setiap helai tubuhnya. Karena aku yakin kami masih saling merindukan. Pukul telah menunjukan 16:40 wib. Sudah saatnya aku untuk kembali dan meneruskan kembali pekerjaan yang sempat tadinya tertunda. Aku meraih tas dan memasukan kembali tumpukan yang kubawa tadi, nyalakan motor kembali aku tancap gas.
Ehem ehem, mohon maaf ya sobat-sobatku di facebook. Ternyata status yang aku tulis telah anda semua tanggapi. Namun tanggapan yang anda berikan itu sama sekali tidak sama dengan yang saya maksudkan. Bukanlah perumpuan yang saya maksudkan distatus itu, melainkan setumpuk atau sebongkah kertas yang disusun rapi oleh penerbit percetakan. Didalam tumpukan kertas itu berisikan guratan-guratan tinta yang menjadi sebuah tulisan berupa kalimat-kalimat yang begitu ajaib. Nah… sudah tahukah sobat apa yang saya maksudkan ?
Be Uu Ke Uu, alias BUKU “^_~ nah… itulah yang saya ceritakan sebenarnya sobat. Iyaa, memang buku yang menjadi kisah cinta didalam tulisan ini. Jika anda mau membacanya dengan baik dan teliti, pastilah sobat semua mengerti apa yang saya tulis dan maksudkan.
Kenapa buku menjadi cinta sejatiku? Karena dialah yang selama ini menjadi penerang ilmu ketika aku buta dan pemahaman, menjadi penemanku jikala ku bersendirian, menjadi jawaban ketikan aku bertanya-tanya. Oleh karena itu aku jatuh cinta dan berikrar bahwa bukulah cinta sejatiku. Tanpa dia hidup akan terasa hampa, dan resah-gelisahpun selalu menggoda.
Mohon maaf jiwa perasaan dan jiwa anda terbawa emosi ketika membaca. Memang benar tempat beribadah (masjid) yang menjadi tempatku beruzlah bersama buku. Aku memilih tempat itu karena kedamaian dan kesuciannya. Orang-orang ada dan mau berdiam di masjid pasti orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah swt. Saat itu aku memang benar-benar menemukan kembali serpihan-serpihan jiwa yang telah berguguran akibat kelalaianku. Apalagi buku yang kubaca adalah membahas masalah jiwa “Periksalah Hati Anda”.
Nah… sobat mau tau tidak? Aku menemukan ilmu baru lhoo dari buku yang barusan dibaca. Ilmu ini menjelas kembali dari ilmu yang pernah aku dapat dari setiap tulisan Iman Al-Ghazali dalam kitanya yang berjudul “Ihya Ulumuddin” ringkasan Said Hawa. Sungguh menangjubkan sekali, walau buku tersebut belum selesai dibaca. Apakah sobat-sobat mau tau isinya? Hehehe… bukan sekang yaaa… tunggu posting yang berikutnya aja, OK.
Oh iya, lokasi yang saya maksudkan dan yang dipilih tada tadi adalah Masjid Almuhajirin Komplek Bukit Datuk Dumai. Karena lokasi memang nyaman dan aman untuk membaca, karena masjid tersebut ditumbuhi pepohonan nan rindang. Banyak makhluk ciptaan ilah yang berkeliaran disana sehingga kita merasa menyatu dengan alam dan lagi jauh dari kebisingan. Maka dari itu masjid inilah menjadi pelihanku. Kalau masih di kota Madya Batam, tempat pilihan idealku adalah Masjid Raya Batam. Masjid ini jauh lebih nyaman, karena lokasinya dekat dengan pinggiran laut dan letaknya ditempat yang tinggi. Angin berhembus dan menyentuh jidadku, sehingga aku merasakan menemukan kedamaian dan kenyamanan tiada taranya.
Aaahhhh… haaaaa sudah pukul 6 lewat 20 pagi hari jum’at 15 mei 2009. aduh aku belum tidur ni tapi sudah sholat subuh lhooo . Sobat, maaf ya kalau tulisannya tidak menyenang buat dibaca. Tapi aku ucapkan terima kasih karena mau meanggapi statusku di facebook. Kalau gitu aku mau tidur dulu ya, jaga kesegatan gitu lhoo . Mohon maaf saya ucapkan sekali lagi… Assalamu’alaikum